Senin, 30 Mei 2022

Manfaaat Pendidikan HKSR bagi OYPMK dan Remaja Disabilitas

Pubertas merupakan proses perubahan atau perkembangan seseorang dari segi fisik menjadi dewasa secara seksual. Antara anak laki-laki dan perempuan pubertas terjadi berbeda waktunya namun pada umumnya anak perempuan pubertasnya terjadi lebih cepat dibanding anak laki-laki. Pemenuhan Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi (HKSR) hak setiap anak tanpa terkecuali anak penyandang disabilitas dan OYPMK (Orang Yang Pernah Mengalami Kusta). 

Perlu kita sadari bahwa saat ini masih banyak kita temukan bahwa masih ada orang tua yang tidak memberikan pendidikan seksual dan reproduksi dengan benar. Ditambah lagi dengan adanya keterbatasan dari anak disabilitas tentulah memiliki tantangan tersendiri dalam memahami dan merespon situasi di sekitar mereka. Belum lagi munculnya anggapan bahwa anak yang menyandang disabilitas tidak membutuhkan pengetahuan pendidikan seksual dan reproduksi seangkan bagi OYPMK tidak bisa menikah dan terpenuhi hak reproduksinya sehingga mereka tidak cukup paham serta pemberian pelayanan yang belum menjangkau. 

Jadi, seperti apa sih hak-hak kesehatan seksual dan reproduksi bagi OYPMK dan remaja penyandang disabilitas yang perlu diketahui serta bagaimana menyiapkan remaja dengan beragam disabilitas maupun OYPMK agar mampu menghadapi masa pubertas dengan sehat, bahagia dan bebas dari rasa takut? 

Maka dari itu, untuk menjawab hal tersebut pada hari Rabu, 25 Mei lalu  Ruang Publik KBR yang dipersembahkan oleh NLR Indonesia mengadakan talkshow live streaming di Youtube Berita KBR dengan tiga narasumber Westiani Agustin yang merupakan Founder Biyung Indonesia, Nona Ruhel Yabloy selaku Project Officer HKSR, NLR Indonesia serta adik kita Wihelimina Ice yang merupakan Remaja Champion Program HKSR. Dimana tema yang diangkat adalah Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi Bagi OYPMK dan Remaja Disabilitas.   

Hal Tabu Menghalangi Pendidikan Seksual dan Reproduksi 

Tentulah kita semua tahu bagaimana pendidikan yang satu ini masih menjadi hal yang tabu untuk dibahas dalam pengetahuan sehari-hari. Menganggap bahwa seorang remaja atau anak akan tahu dengan sendirinya seiring dengan perkembangan yang terjadi pada dirinya. Padahal berbicara mengenai pendidikan seksual dan reproduksi tentulah tidak lepas dari pengaruhnya dari berbagai aspek kehidupan baik sosial, ekonomi dan budaya. 

Contoh kecilnya saja menstruasi yang terjadi pada anak perempuan dan mimpi basah yang terjadi pada anak laki-laki. Mereka tidak mendapatkan penjelasan yang tepat mengenai apa yang sedang dialami oleh mereka tersebut yang kemudian mengacu dan berujung pada kekerasan seksual. Banyak remaja nondifabel saja kaget apalagi remaja difabel ketika mereka mengalami dan menerima perubahan biologi pada dirinya. 

Hak kesehatan seksual dan reproduksi diberikan dengan baik dan benar juga memberikan pengaruh dimana anak yang sudah memasuki usia pubertas mampu berbicara dan menjaga dirinya dari kekerasan dan pelecehan seksual tanpa adanya diskriminasi. Anak penyandang disabilitas juga mengalami hal-hal yang terjadi pada anak pada umumnya apalagi mengenai kebersihan diri, menghindari bullying, relationship. Mereka juga memiliki perasaan dan memiliki hak untuk mendapatkan hal yang sama dalam menjalani suatu hubungan. Memberikan pemahaman bahwa mereka sama, tidak didiskriminasi, mempunyai keluarga, lingkungan dan bisa survive. 

Belum lagi dimana keluarga yang seharusnya menjadi support sistem malah dari keluarga sendiri yang menanamkan stigma bahwa mereka "berbeda" dan tidak bisa menjalankan kehidupan seperti orang-orang pada umumnya. 

Isu Perempuan dan Lingkungan 

Kepedulian akan isu perempuan dan lingkungan yang terjadi menjadi salah satu latar belakang didirikannya Biyung Indonesia. Biyung sendiri diambil dari bahasa Jawa kuno dimana artinya Ibu dengan maksud mengangkat peran seorang ibu dimana semua sumber kehidupan dimulai dari seorang ibu. Biyung Indonesia dimulai dari upaya mengurangi sampah pembalut sekali pakai dengan membuat terobosan memperoduksi pembalut kain secara mandiri. Seperti yang kita ketahui bahwa kebutuhan akan kesehatan reproduksi perempuan berbeda dengan para laki-laki yang mana setiap priodenya wanita akan mengalami yang namanya datang bulan atau menstruasi. 

Seiring dengan perjalan proses dan pendalaman isu lingkungan terhadap penjualan pembalut kain, ternyata hanya bisa menjangkau sebanyak 20% perempuan yang sudah bisa mengakses media sosial dan informasi. Lalu bagaimana dengan yang lainnya ? Ini tentunya menjadi tidak signifikan dengan tujuan akan mengurangi sampah. Ternyata ada masalah yang sebenarnya terjadi mengenai perempuan tidak mendapatkan hak kesehatan kesehatan seksual dan reproduksi dengan semestinya seperti contohnya pemahaman mengenai menstruasi sehat. 

Terdapat beberapa alasan di balik pemakaian pembalut sekali pakai mulai dari tidak adanya opsi lain yang bisa mereka miliki, tidak memiliki kemampuan untuk memiliki opsi lain serta tidak adanya informasi mengenai opsi lain tersebut. Dengan menghubungkan hak mentruasi sehat yang ternyata signifikan dengan pengurangan sampah dengan cara menjangkau 80% kelompok perempuan dari kalangan miskin, rentan dan menengah.  

Saat ini akses mengenai pendidikan hak kesehatan seksual dan reproduksi bagi perempuan masih sangat terbatas ditengah era digital dengan kemudahan mengakses berbagai informasi dari media sosial. Belum lagi wadah untuk mendapatkan berbagai informasi mengenai HKSR (Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi) di bebrapa daerah masih minim dan masih banyak yang tidak mengetahuinya padahal remaja baik penyandang disabilitas dan OYPMK dan remaja lainnya berperan untuk menjadi agen perubahan untuk kedepannya.

Contohnya di Makassar, NLR bekerjasama dengan salah satu organisasi Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI) Makassar yang juga memiliki fokus dan ketertarikan akan HKSR. Organisasi ini juga sudah mulai berproses untuk bagaimana memberikan layanan dan edukasi bagi anak penyandang disabilitas. 

Namun, pemerintah ada program PKPR (Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja) yang ada di hampir setiap puskesmas dan ada petugas yang ditunjuk untuk memberikan edukasi maupun konseling baik untuk remaja umum ataupun disabilitas dan terbuka untuk umum. 

Waktu Terbaik Pendidikan Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi 

HKSR memang dianggap abu untuk dibahas dalam kehidupansehari-hari padahal pendidikan ini merupakan dasar bagi seorang anak ataupun remaja dalam berkehidupan sosial dan berlingkungan disekitarnya. 

Pemberian HKSR secara tidak langsung sudah harus diberikan sejak dini pada anak. Contoh kecilnya saja hal yang tak asing untuk kita ajarkan pada anak adalah saat anak memiliki teman serta adanya perbedaan antara anak laki-laki dan perempuan. 

Pemahaman dasar lainnya adalah anak mengenal tubuhnya sendiri seperti kebersihan d iri, toilet training, bagiamana  mandi kemudian mengganti baju, mengenal anggota tubuhnya ada apa saja dan siapa yang boleh disentuh ataupun tidak. Kemudian anak pun diajarkan untuk berani berbicara ketika merasakan tidak nyaman ketika ada yang menyentuh tubuhnya. 

Usia anak bisa diajarkan mengenai HKSR ini adalah berbeda-beda tiap orangnya mengikuti perkembangan dan pemahaman yang mereka miliki. Ada anak yang usia 3 atau 4 tahun sudah bisa mulai diajarkan dasar mengenai HKSR ada juga yang mungkin pada usia 5 tahun keatas baru bisa memahami dan menerima pendidikan HKSR tersebut. 

My Body Is Mine 

Materi edukasi yang diberikan antara orantua dan anak haruslah seimbang. NLR Indonesia mempunyai sebuah program yaitu My Body Is Mine. Dimana program tersebut diberikan edukasi yang bukan hanya untuk anak disabilitas dan OYPMK tetapi juga diberikan kepada orang tua dan pendamping.   

Jad ketika suatu saat anak membahas hal tersebut, orag tua memahami dan bisa menyelaraskan sikap dan menanggapinya dengan baik. Dukungan dari orang tentulah memberikan pengarh bagaimana pendidikan HKSR ini mampu diterima dan dterapkan dengan anak sebagaimana mestinya. 

Pendidikan HKSR bukan hanya tugas ibu saja tetapi juga tugas ayah yang diajarkan langkah demi langkah. Bahkan ketika tanpa diduga anak mempertanyakan dan menyinggung HKSR ini, sebagai orang tua juga harus belajar bijak untuk menanggapi. Ketika anak sudah mulai berbicara mengenai suatu hubungan dan penasaran dengan banyak hal bisa juga dimanfaatkan orang tua untuk menciptakan rasa nyaman bercerita dan membicarakan apa yang anak sedang rasakan. Sebagai orang tua pun juga bisa belajar memahami bagaimana tumbuh kembang anak saat itu. Apalagi usia remaja merupakan usia dimana anak sudah mulai merasakan perasaan tertarik dengan lawan jenis maka dari itu peran orang tua mempengaruhi bagaimana anak dalam berlingkungan serta terjaminnya HKSR bisa terpenuhi dengan semestinya. 

Ingin mengetahui lebih jauh program dari Biyung Indonesia bisa dengan mengakses  media sosial instagram @BiyungIndonesia