Kamis, 10 Juni 2021

Kebakaran Hutan dan Kaitannya dengan Pandemi

Sekitar 1,6 miliar manusia menggantungkan hidupnya dari hutan. Dengan kata lain tentunya tingkat  risiko bertemunya kehidupan liar pun menjadi lebih tinggi. Disusul pula dengan adanya pengrusakan, pembalakan liar yang terus menerus akibat ulah manusia-manusia yang tidak bertanggung jawab yang dengan sengaja pula melakukan pembakaran hutan dan lahan, konversi lahan dengan tidak memperhatikan lingkungan terutama hutan yang berdampak pada perubahan lingkungan, hancurnya habitat penghuni hutan dan ekosistem didalamnya yang dapat memicu munculnya penyakit dan transmisinya.

Zoom meeting kali ini bersama Auriga Nusantara X Yayasan Alam Sehat Lestari (ASRI) X Blogger Perempuan X Eco Blogger Squad mengangkat tema Cegah Karhutla, Cegah Pandemi. Dari temanya saja sudah sangat membuat kita penasaran yah bagaimana keterkaitan antara karhutla dan pandemi. Kalau beberapa waktu yang lalu, bertepatan dengan hari bumi saya menulis Selamat hari Bumi : Kita Jaga Hutan, Hutan Jaga Kita

Auriga Nusantara itu sendiri merupakan sebuah organisasi non pemerintah yang bergerak dalam upaya melestarikan sumber daya dan lingkungan untuk meningkatkan kualitas hidup manusia. Dengan terus melakukan penelitian investigasi, mendorong perubahan kebijakan untuk tata kelola sumber daya alam dan lingkungan yang lebih  baik serta melakukan advokasi melalui mekanisme hukum. 

Yayasan alam sehat lestari merupakan organisasi non provit yang menggambungkan program kesehatan dan lingkungan sebagai konsep utama dalam pelayanan kepada masyarakat dalam upaya perlindungan taman nasional. Tahun 2007 Yayasan Asri membuka Klinik Asri untuk memberikan pelayanan kesehatan yang berkualitas dan terjangkau bagi seluruh lapisan masyarakat. Maka masyarakat tidak perlu memilih lagi antara kesehatan atau hutan. Klinik Asri ini merupakan satu-satunya klinik di Indonesia yang menggunakan pembayaran dengan menggunakan bibit pohon. 

Blogger Perempuan Network merupakan platform digital dimana seluruh perempuan di Indonesia bisa saling belajar menceritakan dan menginspirasi satu sama yang lain melalui konten dan Eco Blogger Squad merupakan komunitas yang beranggotakan para blogger yang memiliki kepedulian terhadap isu lingkungan hidup terutama perubahan iklim dan perlindungan hutan. 

Pemateri kali ini diisi oleh Dedi Sukmara selaku direktur informasi dan data Auriga serta dr Alvi Muldani selaku direktur Klinik Alam Sehat Lestari. Penasaran apa saja yang dibahas pada kesempatan tersebut dan apa saja yang bisa kita ambil, yuk kita sama-sama simak. Semakin banyak membaca semakin  banyak tau kan. Kuy...  

Bencana tahunan kebakaran hutan dan lahan selama dua dekade terakhir, tepatnya dua tahun yang lalu merupakan kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang paling mengkhawatirkan. Berdasarkan data pemerintah yang terkumpul, hutan dan lahan dengan luas 1,6 juta hektar hangus terbakar dilalap api. Dimana ini merupakan kasus karhutla yang terparah sejak bencana asap di tahun 2015 lalu. Pemerintah kita menjadi sorotan karena kasus kebakaran yang tidak berkesudahan. Berakibat pula terhadap hubungan diplomatik dengan negara tetangga yang mau tidak mau juga harus merasakan imbasnya. Inilah yang menyebabkan Indonesia menjadi penyumbang emisi gas rumah kaca terbesar di dunia. Sangat disayangkan yah. 

Tudingan bahwa kemarau panjang (El Nino) lah yang menjadi pemicu kebakaran. Padahal ada atau tidaknya kemarau panjang kebakaran juga sering terjadi. Yah, bisa kita jawab sendiri apa yang sebenarnya menjadi dalang utamanya. Yap, siapa lagi kalau bukan ulah dari manusia itu sendiri baik karena kesengajaan ataupun akibat dari kelalaian. 



Meskipun jumlah kebakaran pada tahun 2019 lebih kecil daripada tahun 2015 selama enam tahun terakhir, ternyata emisi yang dihasilkan dari kebakaran dengan luas yang lebih kecil ternyata sama besar emisi yang dihasilkan pada periode puncak kebakaran. Padahal lebih kecil satu juta dibandingkan kebakaran pada tahun 2015 lalu. Indonesia pun termasuk menjadi negara keenam didunia yang diproyeksikan untuk emisi CO2 secara keseluruhan. 

Kebakaran menghebohkan yang terjadi di Amazon dan Australia yang tergolong kebakaran hebat, masih besar dampak emisi yang dihasilkan akibat kebakaran yang terjadi di Indonesia. Salah satu faktornya juga karena di Indonesia tidak hanya terjadi kebakaran pada lahan mineral. Sedangkan di negara-negara seperti Australia lahannya adalah lahan kering. Indonesia memiliki lahan gambut yang tentunya jika terjadi kebakaran akan menghasilkan karbon yang berbeda pula. Inilah resiko yang mau tidak mau kita pikul bersama-sama.

Dapat diperhatikan, juga secara keseluruhan yang menjadi lumbung api yaitu provinsi yang memiliki karakteristik lahan industri dan memiliki banyak industri ekstraktif yang berbasis lahan dimana wilayah tersebut memiliki lahan yang kaya gambut namun ada pula daerah yang ternyata kebakarannya pun terjadi berulang dilahan non gambut. Ketika kebakaran hebat yang terjadi pada tahun 2015 dan 2019, provinsi-provinsi kaya gambut ini menyumbang bencana kabut asap yang tinggi. Seperti contoh kebakaran yang terjadi di Papua yang tidak hanya disebabkan pembakaran untuk pembukaan lokasi industri tetapi juga karena faktor lainnya. 

Ketika kawasan gambut terbakar, apalagi sudah dirusak, dikeringkan dan kehilangan fungsinya maka akan sangat berpotensi menjadi tempat kebaran yang berulang. Kita ketahui semua bahwa dampak dari kebakaran lahan gambut adalah efek dari asapnya yang susah untuk dipadamkan dan tentunya dampaknya akan sangat besar. Jika sampai terjadi kebakaran yang berulang, tentunya menandakan tidak adanya efek jera dan belajar dari kesalahan yang lalu. Kebakaran yang terjadi ditempat baru pun semakin berganti tahun pun tetap terus terjadi. Lahan kebaran semakin meluas dan dampak yang terjadi pun tiap tahun tetap ada bahkan ada yang sampai berulang. Inilah yang tetunya perlu untuk kita sama-sama perhatikan lagi. 

Sebagian besar titik panas sepanjang 20 tahun terakhir berada di lahan gambut. Terutama di Kalimantan Tengah, Riau, Jambi, Sumatera Selatan dan Papua. Yang kemudian menjadi penyebab kebaran dan sulit untuk dipadamkan karena api menjalar ke perut gambut dan tentunya memicu terjadinya bencana asap. Kita perlu berhati-hati pada daerah dan bulan-bulan yang sering terjadinya kebakaran yang terus berulang. Untuk Riau kita perlu mengantisipasi pada hampir semua bulan seperti bulan Januari, Februari, Maret, Mei, Juni, Juli, Agustus dan September. Disusul pula musim kebakaran yang berpindah ke Kalimantan Barat yang bahkan belum memasuki bulan-bulan sering terjadinya kebakaran sudah mulai adanya peristiwa kebakaran. 

Jambi, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, cenderung memiliki pola bulan-bulan sering terjadinya kebaran pada waktu yang sama seperti bulan Juli, Agustus, September, Oktober. Turun terjadinya kebakarakan pada daerah-daerah di atas, kemudian disusul kembali oleh terjadinya kembali kebakaran pada Sumatera Selatan. Biasanya polanya terjadi sekitar bulan Juli, Agustus, September, Oktober. Pola yang terakhir disusul pada daerah Papua yang biasanya terjadi kebakaran pada bulan-bulan September, Oktober, November. Pola-pola ini terus terulang makanya terkadang kita harus mempersiapkan diri dengan terjadinya kebakaran pada daerah dan waktu-waktu tersebut. 

Ini menandakan tidak adanya efek jera yang terjadi di masyarakat yang bisa kita lihat sendiri dengan adanya kebakaran yang terus berulang pada tempat dan waktu yang terlihat jelas dari pola-polanya yang terjadi selama 20 tahun terakhir. 

Terlepas dari itu semua, penyebab dari sering terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) jika kita lihat dari faktor alami bisa disebabkan oleh adanya petir, aktivitas vulkanis dan ground fire. Serta yang tidak pernah bisa kita lupakan juga faktor yang paling sering terjadi adalah karena ulah manusia itu sendiri yang biasanya karena adanya aktivitas pembukaan lahan yang dilakukan dengan cara dibakar, perburuan, penggembalaan, konflik lahan dan aktivitas-aktivitas lainnya. 

Selain penyebabnya, yang patut juga kita sorot adalah dampak yang terjadi akibat dari karhutla tersebut seperti biodiversitas yaitu hilangnya habitat, adanya penurunan populasi tumbuhan dan satwa liar, adanya gangguan kesehatan, pendidikan dan trasnportasi, pemanasan global dan perubahan iklim. Pada tahun 2019 kerugian yang diterima Indonesia akibat dari kebakaran mencapai US5,2 miliar dolar atau setara dengan Rp 72,95 triliun. 

Berdasarkan data di atas dapat kita simpulkan bagaimana kondisi hutan khsusnya di tanah Papua. Berbicara mengenai apa sih yang bisa kita lakukan, apa saja yang bisa kita dukung dan galakkan ke pemerintah, misalnya saja seperti memperluas moratorium hutan dan gambut, meningkatkan penegakkan hukum, restorasi hutan dan gambut terdegradasi, mendukung komunitas pemadam kebakaran dan kapabilitas pemantauan, membangun infrastruktur hidrologis dan mendorong kapasitas respon dini, serta memberi insentif ekonomi untuk tidak membakar. 

Dari berbagai dampak yang terjadi dari kebakaran hutan tentunya kitalah sebagai makhluk hidup yang hidupnya bergantung dari hutan yang akan menanggungnya. Apalagi ada keterkaitan antara deforestasi dengan kesehatan yang menyebabkan adanya penyakit zoonosis. Seperti Covid-19 yang sampai saat ini masih sangat memberikan dampak yang besar bagi kita semua baik dari segi ekonomi, pendidikan, kesehatan itu sendiri dan lain sebagainya. 

Zoonosis 

Zoonosis itu sendiri merupakan peyakit atau infeksi yang secara alami bisa ditransmisikan dari ventebrate ke manusia. Perlu kita ketahui bahwa terdapat lebih dari 200 jenis penyakit zoonosis yang sebagian persentasenya merupakan penyakit baru dan sebagian lagi merupakan penyakit yang sudah ada. Akan tetapi ada beberapa penyakit zoonosis seperti rabies yang bisa dicegah dengan cara vaksinasi.
Sejak 12.000 tahun yang lalu, manusia mulai hidup berdampingan dengan hewan peliharaan. Dengan adanya kedekatan antara manusia dan hewan tersebut yang diikuti juga perubahan lingkungan maka hal inilah yang menyebabkan adanya penyakit zoonosis. Sebagai contoh penyakit yang disebarkan akibat pandemic yang mengalami revolusi dari hewan ke manusia adalah seperti measles, smallpox, TB, gastrric cancer dan lain sebagainya. 


Pandemi itu sendiri dapat dipicu karena adanya organisme spesifik dan telah berada bersamaan dalam beberapa ribu tahun lamanya akan tetapi tidak menimbulkan adanya penyakit. Kemudian adanya kontak antara manusia dengan hewan liar yang disebabkan oleh domestikasi, habitat hewan liar yang terganggu, serta adanya ulah manusia yang tidak bertanggung jawab dengan memperdagangkan hewan liar tersebut. Kemudian dipicu pula dengan adanya perjalanan udara, urbanisasi dan perubahan iklim yang bisa mempercepat terjadinya perpindahan virus yang mungkin saja dibawa oleh hewan liar tersebut yang bisa dengan mudah berpindah ke manusia. 

Hampir dari penyakit inveksi baru merupakan zoonosis. Yang awalnya ditularkan hanya dari manusia ke manusia itu sendiri, kemudian menjadi wabah yang terus berulang-ulang lalu berpotensi menjadi pandemi yang menjangkit ke semua orang. Contohnya seperti HIV yang penularannya dari manusia ke manusia, kemudian meningkat seperti penyakit ebola, salmonellosis, dan saat ini yang sedang kita hadapi sama-sama adalah Covid-19. 

Deforestasi diasosiasikan dengan munculnya panthogen pada kelelawar diseluruh dunia akibat dari fragmentasi, habitat yang mengisolasi populasi, perubahan tingkah laku, menurunnya biodiversitas, serta menurunnya fungsi ekosistem (Willig et al. 2019). Untuk Pantogen yang dimaksud disini adalah henipavirus di Africa (Pernet et al. 2014), virus Hendra di Australia (Wild 2009) dan virus Nipah di Malaysia (Field 2009). 

Virus Nipah 
Virus nipah merupakan kerabat dari virus campak yang berasal dari kelelawar buah di Asia Tenggara. Dengan kasus virus ini angka kematian mencapai 75% kasus yang menyebabkan wabah berulang di asia dengan awal kemunculan pada tahun 1998. Gejalanya adalah nyeri kepala, kaku kuduk, muntah, pusing, hingga koma. Wabah yan terjadi di Malaysia merupakan infeksi manusia yang disebabkan oleh kontak langsung dengan babi atau jaringan yang sudah terkontaminasi. Sedangkan di Bangladesh wabah timbul karena mengkonsmsi buah yang terkontaminasi liur dan kencing kelelawar.  

Yellow Fever 
Virus yang satu ini vektornya adalah melalui nyamuk. Mewabah di Panama Canal (1900), kota-kota di tepi atralntik Philadelphia Rio de Jeneiro, Afrika Barat. Pada tahun 1990-an pertama kali di the Kerio Valley, Kenya. Pada tahun 2016 dan 2018 di Amerika Selatan dengan 2000 kasus ratusan meninggal. Dari penelitian menyebutkan bahwa virus ini disebabkan oleh habitat yang menyempit. 

Malaria 
Malarian Falciparum banyak juga menelan korban di Afrika. Di hutan tropis atlantik Brazil penemuan P falciparu tinggi meskipun tanpa adanya manusia. Ditemukan dibeberapa tempat monyet yang terinfeksi  malaria. Diperkirakan pula deforestasi menjadi faktor infeksi dari manusia ke monyet. 

Pandemi Covid-19 ini dipercaya dipicu oleh transmisi virus dari hewan ke manusia yang kemudian menjadi pemicu fokus terhadap penyakit-penyakit zoonosis yang disebabkan oleh hewan. Dimana hewan tersebut pun terpaksa meninggalkan habitat aslinya dikarenakan adanya kerusakan hutan akibat dari ulah manusia itu sendiri. Meskipun sebenarnya asal covid-19 masih belum ditemukan akan tetapi virus serupa sudah ada. Sunda Pangolin (critically endangered) bersinggungan dengan kelelawar yang tinggal di Hollow Tree. Difragmen hutan urban Malaysia ditemukan sunda pangolin walaupun diversitas rendah. Hal ini membuktikan bahwa hewan ini bisa bertahan di fragmen hutan yang kemudian bersinggungan dengan manusia dan hewan lain yang bisa menyebabkan potensi zoonosis. Di Malaysia dan Vietnam, Pangolin diburu untuk diimport secara ilegal yang kemudian dimanfaatkan daging, kulit dan sisiknya.  
 
Pencegahan 
Seperti yang sudah dijelaskan bahwa salah satu yang mempengaruhi zoonosis adalah karena adanya interaksi langsung antara manusia dengan hewan, maka dari itu kita perlu melakukan pedoman yang baik dan benar sesuai dengan strandar dalam hal pengolahan makanan dan perawatan ternak, rutin dan memperhatikan kebersihan diri sendiri mulai dari yang terkecil yaitu dengan rutin mencuci tangan dengan baik dan benar sehingga pencegahan penularan semakin kecil, dan yang tidak kalah penting dan perlu diperhatikan oleh kita semua adalah menjaga hutan dan lingkungan. 

Masih banyak yang belum diketahui mengenai bagaimana virus bisa berpidah dari hewan ke manusia begitupun sebaliknya. Fragmentasi hutan dan lanscape serupa seperti lahan pertanian dan padang rumput (pastures) telah menjadi faktor utama dalam zoonosis. Ketika deforestasi beberapa spesies menurun, namun beberapa spesies bisa beradaptasi. Spesies yang beradaptasi meningkatkan resiko zoonosis. Dapat disimpulkan bahwa manusia perlu menyeimbangkan produksi makanan, komoditi hutan dan barang lainnya dengan tetap menjaga hutan. Dengan adanya konservasi hewan liar dapat membantu hewan liar tetap berada pada habitatnya dan tentunya tidak menyebarkan patogennya. 

Menjaga lingkungan berarti kita mampu mencegah berabagai wabah untuk tidak terjadi. Kemudian jika wabah mampu diminimalisir atau bahkan dicegah maka akan mempersempit pula kemungkinan terjadinya pandemi. Maka dari itu semua berawal dan bermula dari menjaga lingkungan dan itu semua pun berbalik dari kita sendiri dan untuk kita sendiri pula. 




 




 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih atas kunjungan dan coret coret komentarnya ya ...

Kebakaran Hutan dan Kaitannya dengan Pandemi

Sekitar 1,6 miliar manusia menggantungkan hidupnya dari hutan. Dengan kata lain tentunya tingkat  risiko bertemunya kehidupan liar pun menja...