Jumat, 22 Oktober 2021

Kesempatan Terakhir Bagi Kemanusian Pulihkan Masa Depan Bumi



Pemanasan global semakin hari semakin terasa. Mungkin saat ini memanglah belum terlalu dirasakan langsung oleh kita namun jika terus berlanjut seperti ini kita tidak bisa memprediksi bagaimana efek kedepan nantinya. Perubahan suhu yang terjadi pada bumi saat ini adalah salah satu masalah yang besar yang harus secara bersama-sama kita pikirkan. 

Peningkatan suhu yang terjadi saat ini juga tidak luput karena efek rumah kaca yang tentu saja kembali lagi, didasari oleh aktivitas yang dilakukan oleh manusia, yaitu kita sendiri. Selain itu penggunaan bahan bakar fosil, aktivitas pembakaran sampah, sampai pada kasus  pengalih guna lahan serta pembakaran hutan yang akhir-akhir ini bukannya semakin mereda malah semakin banyak kasus baru bahkan area-area baru yang dibakar menyebabkan kadar polusi semakin meningkat. 

Tahukah kita bahwa akan banyak dampak negatif yang akan sangat menyengsarakan dan akan mendatangi kita jika suhu bumi meningkat hingga 2०C. Naik 1,5० saja sudah banyak bahaya yang mengancam apalagi kalau lebih yang saat ini mulai berangsur-angsur kita rasakan seperti musibah kekeringan, badai dan banjir parah melanda berbagai negara. Hingga pemanasan global juga mengakibatkan laut menjadi lebih asam yang bisa membunuh koral dan plankton di laut. Tentu saja jika koral dan plankton mati, bukan hanya mengganggu tetapi bisa mengancam ekosistem laut. 

Dengan adanya perubahan iklim ini, tentulah kita pun harus beradaptasi dengannya. Bukan hanya menerima, sudah sewajibnya kita secara bersama-sama berupaya menemukan dan menerapkan berbagai cara untuk menanggapi dan menanggulangi dampak dari perubahan iklim tersebut. 

Yayasan Mandiri Berkelanjutan yang diwakilkan oleh Anggalia Putri Permata Sari selaku Knowledge Manager Yayasan Mandiri Berkelanjutan bersama Eco Blogger Squad dan BP Network Jum'at 15 Oktober 2021 lalu melakukan zoom meeting dengan membahas : Bumi Semakin Panas, Kode Merah Untuk Kemanusiaan. 

Baru-baru ini kode merah sudah dikeluarkan oleh IPCC. Sebelum lebih jauh kita bahas kenapa hal ini menjadi hal yang patut untuk kita pikirkan dengan baik ketika IPCC sudah mengeluarkan kode merahnya serta pengaruhnya untuk kehidupan kita? Sebelumnya, IPCC merupakan singkatan dari Inter-governmental Panel on Climate ChangeIPCC bisa juga disebut sebagai dewan iklim PBB. IPCC merupakan badan internasional terkemuka untuk penilaian perubahan iklim yang tersusun dari 195 anggota negara yang ada di dunia, serta ribuan ilmuwan pakar internasional secara sukarela menganalisis perubahan iklim di bumi dan menyarankan tindakan penanggulangan. IPCC memiliki misi untuk mengevaluasi resiko dari perubahan iklim yang disebabkan oleh aktivitas manusia. 

Apalagi aktivitas utama dari IPCC adalah mempublikasikan laporan khusus tentang topik-topik yang relevan dengan implementasi UN Framework Convention on Climate Change (UNFCCC). Jadi sudah ketebak dengan kita bagaimana IPCC mendapatkan dan melabeli bahwa bumi sedang tidak baik-baik saja. 

Kecemasan tentu sedang melanda kita saat ini, terutama dengan adanya perubahan iklim yang tidak menentu ditambah lagi kita pun dalam dua tahun belakangan ini harus menyesuaikan diri dengan adanya Covid-19 yang mengharuskan kita untuk membatasi gerak-gerik kita dalam bermasyarakat. Belum lagi kecemasan kita dengan krisis iklim yang saat ini menjadi perhatian penting juga bagi kehidupan kita. 


Kesempatan terakhir kita untuk memperbaiki semuanya adalah hingga tahun 2030 capai 1,5०C yang batas aman dengan penurunan emisi drastis dimulai dari sekarang. Tindakan bijak bersama inilah yang nantinya akan sangat menyelamatkan masa depan anak cucu kita dan bumi di masa depan. Caranya adalah dengan secara bersama-sama secara agresif dan luas mengendalikan dan menurunkan emisi global hingga tahun 2050 kita harus sudah mencapai sebuah kondisi dimana emisi yang kita serap harus sama dengan emisi yang kita lepaskan. Menanam pohon, memulikan ekosistem dan memulihkan laut adalah cara kita menyerap emisi tersebut. 

Apalagi negara kita, Indonesia sangat rentan terdahap dampak krisis iklim. Sudah tidak asing lagi kita mendengar berita jika sudah mulai musim penghujan banjir akan terjadi dimana-mana bahakn terkadang bukan musim penghujan pun banjir tetap terjadi. Kasus kekeringan dimana-mana, kenaikan permukaan air laut, perubahan pola cuacah hujan, serta kenaikan suhu. Apalagi kita sangat tergantung kepada sumber daya alam dalam menunjang perekonomian. Akibatnya jika tidak ditanggulangi segera, PDB kita bisa hilang hingga 2,5-7% dan kembali lagi kelompok termiskinlah yang akan terkena dampak paling beratnya. 


Waktunya kita beraksi. Stop penggunaan batu bara yang bisa digantikan dengan bioterma, pembangkit listrik tenaga surya yang benar-benar bersih, manfaatkan gambut dengan baik jang dialih fungsikan bahkan dikeringkan karena sekali gambut dikeringkan maka gambut akan kehilangan fungsinya, cegah karhutlah, lindungi hutan alam yang masih tersisa dan tekan deforestasi. Kita yang melindungi kita jugalah yang bertugas memulihkan. Merestorasi serta merehabilitasi ekosistem alam, termasuk didalamnya hutan, mangrove serta gambut tadi. 

Adaptasi pun juga perlu dilakukan bagi kelompok masyarakat yang rentan baik ekonomi menengah kebawah dan juga tidak ketinggalan masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir serta pulau-pulau kecil. Mereka perlu mendapat perhatian ditambah lagi aspek kerentanan dampak perubahan iklim yang tidak sama di berbagai wilayah pesisir pun otomatis membutuhkan langkah adaptasi yang berbeda pula. 


Mengurangi sampah terutama sampah plastik dan bahan yang tidak bisa terurai lainnya, membeli dan menggunakan produk ramah lingkungan, melakukan donasi untuk perbaikan dan pelestarian lingkungan, membuang sampah pada tempatnya dan mendaur ulang sampah jika memungkinkan. Hal sekecil apapun yang kita lakukan, sebenarntya besar manfaatnya bagi kita dikemudian hari. 
 
Bersama kita tingkatkan Nationally Determined Contributin dan sukseskan capai Net Zero Emission.